Pengumpan:
Tulisan
Komentar

SIAPAKAH Pak Iti? Sosok ini memang tak banyak diungkap orang. Menurut pengakuannya, ia adalah mantan kepala rumah tangga kepresidenan RI di Yogyakarta. Ia salah seorang anggota Barisan Pelopor Istimewa (BPI) yang dibentuk Sukarno. Jadi, ia orang yang pernah sangat dekat dengan Presiden Sukarno.

Nama aslinya R. O. Permadipoera. Pada era 1950-an, namanya sering menghiasi media cetak. Pak Iti rajin menulis pengalaman perjuangan, kritik sosial, surat pembaca, atau jadi sumber berita. Tidak diketahui mengapa ia menyebut dirinya dan kemudian dikenal orang sebagai Pak Iti. Hanya, dalam semua tulisannya, ia menyebut dirinya Pak Iti, Pak Itty, atau Pak Iti Tea. Kadang ia mencantumkan nama aslinya, tetapi lebih sering nama populernya saja.

Redaksi majalah Warga yang dipimpin oleh Nanie Soedarma, ketika memperkenalkan Pak Iti kepada pembaca, menulisnya dengan jenaka. “Adi-adi anu sok sering ngadangukeun radio tangtu moal aya nu bireuk deui kana jenengan Pa Iti. Bodor Pa Iti atawa reog Pa Iti tea geus populer ti jaman Republik Jogja keneh. Kana rupa Pa Iti tea tangtu rea nu can terang. Bisi harayang terang, tah ieu ku Kaka dibere potret hiji sewang….”

Nama Pak Iti semakin mencuat ketika dengan gigih ia ikut melakukan tuntutan agar kasus kematian Otista, diusut tuntas dan dibawa ke pengadilan. Selain berdemo dari Bogor ke Bandung dengan menggunakan sepeda, ia juga menulis surat terbuka untuk Jaksa Agung. Surat itu kemudian dimuat dalam koran Sipatahoenan (10/12/1956) lalu dimuat pula majalah Warga (21/12/1956) sehingga diketahui khalayak banyak. Surat terbuka Pak Iti, sedikit banyak telah ikut mengungkapkan kasus kematian Otista. Selengkapnya bunyi surat tertanggal 6 Desember 1956 itu adalah sebagai berikut.

Dengan hormat. Paduka Tuan tentu melihat, bahwa sangat terasa pincang, malah begitu mencolok mata, dirasakan oleh keluarga almarhum Sdr. Oto Iskandar di Nata, begitu juga oleh seluruh masyarakat Sunda. Terutama setelah tahu bahwa Sdr. R. Oto Iskandar di Nata, sewaktu menjabat Menteri Negara RI kabinet yang pertama, telah sampai kepada ajalnya karena dibunuh oleh sejumlah orang yang tak bertanggung jawab.

Sementara kepada mereka yang berdosa belum ada tuntutan apapun baik dari pihak Kejaksaan atau dari pihak Kepolisian Republik Indonesia. Saya pribadi pada waktu ini tahu, bahwa orang-orang yang ikut membunuh Sdr. Oto Iskandar di Nata itu masih ada. Saya juga mendengar bahwa di Pusat Kepolisian Jawa Barat sudah ada keterangan-keterangan resmi dan tertulis, yang tentu saja keterangan-keterangan itu bisa digunakan atau jadi bahan untuk mengadakan penuntutan. Begitu pula Sdr. Djumadi salah seorang Inspektur Polisi yang menurut pengakuannya melihat langsung kejadian itu, benar-benar tahu/melihat pada waktu Sdr. Oto Iskandar di Nata dibunuh.

Oleh karena itu para pembunuh sekarang masih hidup, di antaranya yang bernama Mudjitaba, asal dari Kampung Melayu, Teluk Naga, Tanggerang. Jadi saksi dan pembunuh masih sama hidup. Saya memohon dengan sangat agar peristiwa ini cepat diselesaikan. Terutama memohon agar si pembunuh, Mudjitaba, secepatnya ditangkap, sebab dia telah jelas membunuh Sdr. Oto Iskandar di Nata pada tanggal 20 Desember 1945 di Kampung Katapang wilayah Distrik Mawuk. Sebelumnya saya sampaikan beribu-ribu terima kasih.

Jaksa Agung Soeprapto menaruh perhatian pada kasus tersebut. Namun, ia tidak mau menuntut seseorang sebelum bukti-bukti kuat dapat dikumpulkan. Surat Pak Iti dan tuntutan dari Parki yang dilakukan jauh sebelumnya, telah mendorong aparat kejaksaan untuk bisa menuntaskan kasus yang menjadi perhatian warga Jawa Barat itu.

Menurut sejumlah orang yang pernah berjumpa dengannya, Pak Iti adalah orang yang unik. Ia sering berdemo sendirian di Alun-alun Bandung. Sambil berdiri, ia membuka satu per satu gulungan kertas yang memuat isi tuntutannya. Setelah selesai ia lalu pindah ke tempat lain.

Pak Iti menjadi saksi sejarah bangun dan jatuhnya orang-orang Sunda di panggung politik nasional. Ia bahkan mengalami sendiri proses fluktuasi itu. Suatu saat ia menjadi pembela gigih Sukarno. Kali lain ia menjadi sosok orang Sunda yang terpinggirkan dari panggung sejarah, yang jauh terpuruk hingga generasi Sunda kemudian tak mengenal namanya lagi.

Hari ini, bolehlah semua orang berlomba menjadi yang terdepan dan paling lantang meneriakkan Otista sebagai pahlawan. Atau mengutuk upaya-upaya pengaburan kasus pembunuhannya karena menyangkut nama baik mantan pejabat penting negeri ini. Akan tetapi, saat itu, pada 1950-an, hanya orang bernyali besar yang bisa melakukannya. Dari sedikit pemberani itu adalah Pak Iti tea. (Iip) ***

Sisi Lain Si Jalak Harupat

APAKAH Otista pernah merasa suntuk dalam hidupnya? Pertanyaan sederhana ini mengemuka dari satu keinginan memahami sosok Otista yang lebih manusiawi. Salah satu sisi kemanusiaan seseorang itu adalah merasa suntuk oleh rutinitas atau tekanan dalam hidupnya. Menurut Sjarif Amin atau Mohamad Koerdie (Saumur Jagong, 1983), salah seorang kepercayaan Otista, pada waktu-waktu senggang ia sering diajak ke Bojongsoang. Ia diajak ke sawah milik Otista yang terdapat saung ranggon untuk beristirahat.

Sejauh mata memandang, pada masa itu, hanya persawahan yang terlihat. Lalu tanpa ragu, Otista turun ke sawah, berkubang lumpur untuk memeriksa padi yang sebentar lagi akan dipanen. Dalam pandangan Koerdie, Otista seperti merasa senang sekali kalau sudah bobolokot lumpur begitu. Mungkin itulah obat suntuk bagi tokoh kita itu, turun ke sawah.

Ketika bertugas di Pekalongan (1924-28), Otista bersua salah seorang perintis pers Indonesia, Darmosoegito. Mereka kerap berkumpul untuk membicarakan persoalan rakyat pribumi. Karena kegiatan itu, mereka selalu diawasi oleh seorang intel. Begitu tahu ada intel yang selalu menguping pembicaraan, mereka bukan mengehentikan diskusi, melainkan semakin bersemangat.

Suatu hari Otista malah meminta si intel ikut masuk saat diskusi berlangsung. Selain disuguhi berbagai penganan dan minuman, intel itu juga dibiarkan mengikuti pembicaraan. Lama-lama intel itu insyaf bahwa yang dibahas oleh Otista dan kawan-kawannya adalah perihal kesulitan hidup masyarakat. Akhirnya, si intel mengundurkan diri dari jabatannya karena tak mau lagi jadi antek-antek penjajah.

Olah raga kegemaran Otista adalah sepak bola. Sebagai kecintaannya terhadap sepak bola, Otista pernah menjadi ketua Persib bersama Suprodjo sebagai sekretaris. Suprodjo adalah seorang mantan Digulis. Pada Kabinet V yang dibentuk 3 Juli 1947 di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin, Suprodjo terpilih sebagai Menteri Sosial. Kegemaran terhadap sepak bola itu terus dilakukan Otista, sekalipun ia sudah menjadi tokoh pergerakan.

Pada 16 Mei 1932 Otista berpartisipasi dalam pertandingan antar-veteranen. Elftal (kesebelasan) Otista berhadapan dengan elftal Husni Thamrin. Menutup liputan pertandingan itu, Redaksi Pandji Poestaka menulis demikian, “Waktu referee meniup peluitnya stand tetap 0-0. Dan sekalian pemain berlari menyerang persediaan limonade. Untung permainan itu hanya 15 menit saja lamanya, kalau tidak tentu banyak lagi yang knock-out (jatuh pingsan).”

Otista juga punya rasa humor yang cerdas. Ketika memimpin koran Tjahaja, dia membutuhkan kawan seperjuangan yang mengerti sikapnya. Salah seorang yang ingin diajaknya ialah Koerdie. Sayangnya, waktu itu Koerdie lebih memilih pulang ke Ciamis untuk bertani. Otista melihat semua pekerjaan pada waktu itu dalam pengawasan Jepang dan yang paling longgar pengawasannya ialah di bidang pers. Ia ingin mengajak Koerdie yang waktu itu mendapat kesulitan karena diadukan telah menjual barang di atas harga yang ditentukan.

Agar Koerdie dapat datang ke kantor Tjahaja, Otista mengirimkan surat panggilan. Uniknya, surat itu dikirimkan ke berbagai alamat karena saat itu Koerdie tidak diketahui pasti ada di mana. Jadi ada yang dikirim ke alamat di Bandung, juga di Ciamis. Salah satu surat yang ditulis oleh staf Otista berbunyi demikian.

“Sudah beberapa kali dicari ke rumah, tetapi selalu tidak ada. Ada permintaan dari tuan Oto Iskandar di Nata, agar Adinda bisa datang ke Bandung. Mohon diperhatikan, surat ini sudah berkeliling ke mana-mana (atrok-atrokan), karena belum menerima kepastian di mana Adinda sekarang.”

Ketika Koerdie berhasil menemui Otista di kantornya, ia langsung disapa, “Ke mana saja, Dik? Lama sekali tak ada kabar? Dari awal bulan ini Akang meminta Niti (Somantri) untuk berkirim surat. Ingin ngobrol. Akang kira gampang!” sambungnya. Akhirnya, berkat kesetiakawanan Otista, Koerdie membantu mengelola Tjahaja. Dengan demikian, ia terbebas dari berbagai tuduhan pihak Jepang. Otista juga pernah menitipkan Koerdie kepada orang-orang tua kepercayaannya di Jakarta agar dapat membantunya kalau bertugas di Jakarta.

Koerdie juga mencatat Otista sebagai sosok yang rendah hati. Tak segan ia menginap bersama dalam satu kamar penginapan yang sederhana dan penuh serangan nyamuk. Sikap itu juga tampak dari kemauan Otista mengunjungi seniornya, tanpa melihat latar belakang pilihan politik. Suatu hari Koerdie diajak menemui Aria Ahmad Djajadiningrat di kampung Jomin, antara Purwakarta dan Cikampek, oleh karena itu ia dikenal sebagai Pangeran Jomin.

Pada 1936 Pangeran Jomin menerbitkan buku Kenang-kenangan. “Kita mau mendengar tuturan pengalaman orang yang pernah menjadi anggota Dewan Hindia,” katanya. Djajadiningrat adalah pribumi yang pertama diutus ke Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa, jadi anggota delegasi negara Belanda. Ternyata, yang dijelaskan Djajadiningrat kemudian tak jauh dari yang sudah diketahui Otista dan Koerdie melalui bukunya itu.

Sudah barang tentu Otista juga seorang orator yang selalu berhasil memberi semangat pendengarnya. Pelukis Barli yang pernah menjadi kontributor Sipatahoenan, mengabadikan Otista yang sedang berpidato penuh semangat dalam Kongres Paguyuban Pasundan XXV, 1940. “Persatuan yang kami kehendaki boleh dibandingkan dengan jari tangan, kalau dipersatukan yang teguh, menjadi `Ketupat Bengkulu`!” seru Otista. Hadirin bertepuk tangan riuh, suaranya bergemuruh, tanda setuju pada ucapannya itu. (Iip D. Yahya, dari berbagai sumber) ***

Serpihan Pemikiran Otista

..yang harus dianjurkan kepada rakyat ialah keluhuran rasa keadilan. Dan, mengabdi untuk keadilan itu tidak perlu dipertanyakan akan dilakukan di mana, waktu apa, atau bagaimana caranya.

OTO Iskandar di Nata (Otista) adalah penganjur persatuan Indonesia yang sejati dengan tetap mempertahankan pelestarian dan pengembangan budaya lokal –yang kemudian dikenal sebagai nasionalisme yang mengakar. Di tangan Otista, kepentingan masyarakat Sunda dalam lingkup Indonesia, diperjuangkannya melalui Paguyuban Pasundan (PP). Saat dipimpin Otista, organisasi ini menjelma sebagai civil society yang memiliki lebih dari 50 cabang, yang menyuarakan kepentingan warga dari Cirebon hingga Lebak, dari Cijulang hingga Jampangkulon.

Selain mengurusi kepentingan perempuan (Pasi), pemuda (YOP), dan kepanduan, organisasi ini juga bergerak di bidang pendidikan, sosial (bale rahayat, bantuan hukum), dan ekonomi (koperasi, perbankan, penerbitan surat kabar, percetakan). Ada pula lembaga khusus yang mengurusi terpidana yang sudah menjalani hukuman agar bisa kembali ke tengah masyarakatnya.

Namun, banyak hal yang masih “gelap” mengenai pemikiran tokoh ini. Tulisan singkat ini coba memaparkan beberapa serpihan pemikiran Otista.

Sikap kooperatif

Otista selalu konsisten dalam sikapnya untuk kooperatif dengan Belanda, begitu pula dalam masa pendudukan Jepang. Sikap itu pertama kali dinyatakannya pada 1926 di Pekalongan. Menurutnya, nonkooperasi memang penting asal yang akan menggunakannya memenuhi tiga syarat, yakni kekuatan batin dan otak, kekuatan uang, dan kekuatan solidaritas. Otista melihat syarat-syarat itu belum memadai di tengah rakyat Indonesia saat itu. Kalau dipaksakan, sikap nonkooperasi itu hanya akan mengacaukan barisan perjuangan.

Menurutnya, yang harus dianjurkan kepada rakyat ialah keluhuran rasa keadilan. Dan, mengabdi untuk keadilan itu tidak perlu dipertanyaan akan dilakukan di mana, waktu apa, atau bagaimana caranya. Akibat sikapnya itu, pada masa penjajahan Belanda ia dicap sebagai kooperator dan pada era Jepang ia disebut kolaborator.

Sikap kooperatif itu mewarnai kiprah PP selama masa kepemimpinannya (1931-42). Di tangan Otista, PP menjadi pergerakan kebangsaan yang tidak melulu bersifat politik tapi juga mementingkan soal pendidikan, kebudayaan, sosial, dan ekonomi. Diakuinya, aspek pendidikan PP memang lebih pesat dari pada aspek lainnya. Karena, di matanya, hanya pendidikanlah yang akan menyelematkan bangsa ini di kemudian hari.

Dengan sikap kooperatif itu, PP dituduh provinsialistis. Bagi Otista, tuduhan itu salah alamat. Tuduhan seperti itu, menurutnya, hanya cocok bagi kelompok yang antipersatuan Indonesia, sedangkan PP sangat menjunjung tinggi persatuan di antara golongan-golongan bangsa Indonesia. Hanya saja, Otista waktu itu memilih persatuan dengan jalan federalis, bukan unitaris. Unitaris di mata Otista akan mengenyampingkan kekayaan budaya lokal, sementara federalis akan lebih mementingkan local genius seperti bahasa.

Ratu Adil

Pada era Otista, wacana Ratu Adil ternyata sudah menjadi bahan pembicaraan pula. Dalam soal ini, ia menganggap bahwa Ratu Adil itu bukan seorang raja/pemimpin tetapi suatu sistem. Sistem yang membawa konsep baru dalam memenuhi berbagai hajat hidup masyarakat. Menurutnya, ada tiga belas aturan yang dapat menopang sistem Ratu Adil itu, yakni:

(1) Kemakmuran masyarakat harus selaras dengan kemakmuran seseorang. Suatu bangsa tak akan dapat dinamakan makmur kalau tidak sampai di segala lapisan masyarakatnya.

(2) Kemakmuran bangsa harus disusun oleh pemerintah sendiri.

(3) Daya upaya untuk menyusunkan kemakmuran itu harus bekerja giat. Masyarakat mempunyai hak untuk mempergunakan tenaga anggota masyarakat.

(4) Seorang anggota masyarakat bukan saja mempunyai hak, akan tetapi juga kewajiban. Bekerja (adalah) kewajiban masyarakat.

(5) Kaum ibu sama haknya dengan kaum bapak.

(6) Bagi orang yang lebih cerdas, kuat, mempunyai tanggungan yang lebih besar.

(7) Kebanggaan pekerjaan tak ditentukan dengan besarnya buruh, tetapi lamanya dan susahnya dikerjakan.

(8) Menghendaki kemakmuran itu bukan untuk sementara saja tapi selamanya.

(9) Tiap-tiap anggota masyarakat diberi kesempatan dengan leluasa untuk mengembangkan kepandaiannya yang berguna bagi masyarakat.

(10) Dengan majunya teknik (teknologi), kita dapat mempergunakannya, hanya masyarakat jangan menjadi budak-budak teknik.

(11) Pemerintah membagikan hasil tenaganya itu, pada tempat yang sudah ditetapkan.

(12) Tiap orang merdeka untuk mempergunakan hak pembagiannya yang telah diterimanya.

(13) Pemerintah yang perlu pemakai barang bahan, harus dapat memberi penggantiannya bahan itu. Pengeluaran dan pemasukan barang, pemerintah yang mengatur.

Setara gender

Pada butir kelima, diterakan bahwa hak kaum ibu sama dengan kaum bapak. Kalau di masa sekarang, Otista akan disebut sebagai seorang pemimpin yang sadar gender. Otista memang menganggap peran perempuan itu sangat penting. Menurutnya, adanya matriachaat di Minangkabau itu suatu bukti bahwa memang kaum ibu juga berani dan dapat memegang kekuasaan dan keadilan.

Di Jepara, tahun 674 (M) yang menjadi raja seorang istri yang termasyhur dapat mengatur kerajaannya dengan keadilan sehingga negeri menjadi aman dan sentosa. Orang Sunda juga mempunyai pahlawan istri yang tercantum dalam Kidung Sunda. Dalam cerita Mundinglaya di Kusumah ternyata Dewi Asri menjadi tenaga batin yang baik untuk mencapai sesuatu hajat yang baik, menjadi pendorong ke arah kebaikan dan kesempurnaan.

Komitmen pada peran perempuan ini ditunjukkan Otista dengan mendorong berdirinya Pasundan Istri (Pasi). Awalnya Pasi yang dipimpin oleh Ema Poeradiredja hanya menekuni pekerjaan ibu-ibu seperti menyulam, merenda dan memasak. Lambat laun aktivitasnya melebar ke berbagai sektor: sekolah buat calon ibu, badan penerangan untuk ibu hamil, badan penolong pengangguran kaum ibu, rumah sakit, dan koperasi. Dalam capaian politik juga tak ketinggalan, dengan masuknya ketua Pasi sebagai anggota dewan perwakilan kotapraja. Bahkan, Ema menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan itu.

Otista juga dikenal sebagai pemimpin yang menganggap penting adanya kaderisasi. Ia pemimpin yang banyak ngajeujeuhkeun anak-anak muda untuk tampil di berbagai bidang pekerjaan. Dalam pandangannya, “Pemuda harus sanggup menjadi harapan bangsa, harus menyusun generasi baru yang sanggup menerima pekerjaan yang akan ditimpakan di atas bahunya. Pemuda harus berani memperbaiki susunan masyarakat yang telah bobbrok, dengan semangat baru yang selaras dengan keadaan. Pemuda harus berani menyusun kebudayaan yang baru, kebudayaan dunia segenapnya. Pemuda harus berani meneruskan generasinya, harus berani meneruskan sejarah bangsanya untuk kemuliaan kemanusiaan seumumnya”.

(Iip D. Yahya, dari berbagai sumber) ***

Nasionalisme yang Mengakar

SEKALIPUN banyak disebut sebagai wacana besar, masih sedikit yang menekuni isu nasionalisme Indonesia, dalam hal ini nasionalisme lokal. Tak heran kalau banyak yang terjebak dalam pemahaman bahwa nasionalisme itu universal. Padahal, konsep nasionalisme Eropa seperti yang dibawa oleh Belanda sangat berbeda dengan nasionalisme Indonesia yang berbasis pada lokalitas.

Berikut petikan wawancara dengan Abdul Mun`im D.Z., peneliti LP3ES yang secara khusus menekuni kajian nasionalisme lokal itu.

Bagaimana nasionalisme Indonesia tumbuh dan berkembang?

Nasionalisme Indonesia tumbuh dari nasionalisme etnik, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, dan lain-lain. Lalu keluar dari ikatan etnik dan beralih ke ikatan agama seperti Jong Islamiten Bond. Menjelang 1928, ikatan itu mengkristal dalam Nasional Bond tanpa menghapus bond-bond lokal. Lokalisme itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari nasionalisme.

Apa yang membedakannya dengan nasionalisme Eropa?

Nasionalisme Eropa itu monolit. Dari situlah berkembang humanisme universal yang melahirkan liberalisme. Nasionalisme itulah yang dibawa para tokoh kita yang alumni Eropa. Oleh karena itu, mereka tidak mengakar di sini sebab akarnya tertinggal di Eropa. Nasionalisme semacam ini menafikan lokalisme. Dari mereka ini pula munculnya tuduhan provinsialistis bagi para pejuang budaya lokal.

Di mana posisi Otista dalam pertumbuhan dua nasionalisme itu?

Sebagai tokoh Pasundan, Oto ikut membangun nasionalisme yang mengakar itu. Kesundaan Oto tidak menghambat pergerakannya dalam memperkuat nasionalisme Indonesia. Justru keteguhan untuk mempertahankan budaya Sunda itu yang membuatnya menjadi tokoh nasional yang mengakar. Ia tokoh nasional yang punya massa real di daerah. Ia mengenal benar suara dan gerak masyarakatnya.

Apa bedanya dengan nasionalisme yang tidak berakar di Indonesia?

Mereka cenderung lebih kompromis dengan Belanda dan kurang militan. Mereka juga tidak mewakili suara rakyat banyak yang tertindas.

Ada kesan apologetik ketika orang Sunda menulis tokohnya sendiri dan ada kecenderungan menyudutkan etnik lain, misalnya Jawa, mengapa bisa demikian?

Sebenarnya masih sedikit sekali kajian yang mendalam terhadap tokoh-tokoh nasional kita. Masih terbatas kepada beberapa tokoh saja, misalnya Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka. Dari yang sedikit itu, juga belum sepenuhnya tuntas dikaji, misalnya konsep politik dan ekonomi Soekarno. Yang sudah dilakukan lebih banyak berbentuk memoar. Apalagi, terhadap Oto yang memang belum banyak kajian mendalam atas perjuangannya. Buku yang ada belum mampu mengangkat Oto dalam lanskap nasional, dalam konteks Indonesian Bond itu. Jadi, keterpinggiran Oto dalam sejarah itu bukan karena dia dari Sunda, tetapi karena memang belum dikaji secara utuh. Beda misalnya dengan Kartosuwiryo, orang bukan Sunda, tetapi berbasis di tanah Sunda. Sekalipun dia tokoh pemberontak nasional, dia lebih dikenal luas karena mendapat tempat dalam banyak kajian. Kalau mau menempatkan Oto sebagai tokoh nasional yang lebih dihargai, ya mari kita lakukan kajian yang lebih mendalam.

Apa jasa terbesar dari tokoh seperti Otista?

Kampanye yang tak kenal lelah mengenai kesadaran nasional, khususnya bagi orang Sunda. Dengan kesadaran nasional itulah tumbuh perlawanan kuat terhadap kolonialisme. Pelestarian budaya lokal adalah perlawanan terhadap kolonialisme yang sesungguhnya. Pelestarian dan pengembangan budaya lokal itu adalah bagian dari nasionalisme dan akan ikut memperkuatnya. (Iip) ***

DUA puluh Desember adalah waktu yang disepakati sebagai hari wafat Pahlawan Nasional Oto Iskandar di Nata (Otista). Namun, bagi orang Sunda, peristiwa itu tetap menyisakan tanya.

Misteri itu berawal pada 10 Desember 1945, ketika mantan Menteri Negara itu diculik Lasykar Hitam atas tuduhan sebagai mata-mata NICA. Sepuluh hari berselang, Otista dibunuh di Pantai Mauk Tangerang. Kasusnya mulai diselidiki pada 1951. Enam tahun kemudian, kasus itu disidangkan dan berakhir pada 1959. Moch. Mujitaba bin Murkam, salah seorang yang terlibat penculikan dan pembunuhan, kemudian dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Mengusut kasus Otista memang sulit dan sangat kompleks. Selain keterbatasan kemampuan aparat saat itu, penyelidikan yang baru dimulai lima tahun setelah kejadian, tentu saja mengganggu bahkan menghilangkan bekas dan bukti kasus.

Adalah Moch. Enduh, polisi yang sudah melakukan penyelidikan sejak 1951. Berkat kegigihan Komisaris Polisi II itu lah, Mujitaba berhasil ditangkap pada 1956. Pengadilan kasus Otista pun berlangsung alot. Setelah 12 orang saksi berhasil dihadirkan di muka sidang, Mujitaba terus membantah telah membunuh Otista. Namun, ia tak bisa menolak keterlibatannya dalam peristiwa itu.

Pengadilan dipimpin Hakim Raffli Rasad dan jaksa R. Sutisna, Sirin St. Pangeran, dan Priyatna Abdulrasyid, yang bertugas secara bergantian. Sementara itu, pembelanya ialah Harjono Tjokrosubeno. Kepada Jaksa Priyatna, Mujitaba sempat “bernyanyi” soal keterlibatan sejumlah orang yang saat itu telah menjadi tokoh nasional. Sayang, upaya Priyatna untuk melakukan pengusutan lebih lanjut ditolak pengadilan.

**

Upaya mencari kaitan kematian Otista dengan Lasykar Hitam ternyata tidak membuahkan hasil memuaskan. Lasykar Hitam hanyalah pelaku lapangan. Organ itu bergerak di bawah Direktorium pimpinan K.H. Achmad Chairun, yang saat itu (1945-1946), mengambil alih pemerintahan Tangerang. Kepentingan rezim Chairun ini juga lemah sebab mereka memisahkan diri dari RI. Untuk apa mereka menculik “pengkhianat” RI kalau mereka sendiri tidak mengakui RI.

Rezim Chairun lebih tepat dikatakan telah “diorder” untuk menculik Otista. Lalu ditugaskanlah Lasykar Hitam yang menjadi inti dari Pasukan Berani Mati pimpinan Syekh Abdullah. Belum ditemukan informasi yang kuat, siapa mastermind yang “mengorder” penculikan dan pembunuhan itu.

Asumsi pada skenario ini adalah sedikitnya pengetahuan para pelaku terhadap sosok Otista. Di pengadilan, hampir semua saksi mengaku tidak mengenal Otista sebelumnya, kecuali Djumadi yang anggota BKR. Mereka hanya dibekali informasi bahwa Otista adalah “Mata-mata musuh yang menjual kota Bandung satu miliun!” Tidak jelas apakah dalam bentuk gulden atau rupiah. Adanya tuduhan ini faktual karena diakui dalam proses pengadilan. Lalu, dari mana angka satu miliun itu?

Ketika tentara Jepang panik karena pasukan Sekutu sudah tiba di Indonesia, sebagian dari mereka kebingungan dengan sejumlah dana yang terkumpul pada masa pendudukan. Di antara dana itu ada yang diserahkan kepada sejumlah tokoh sebagai bekal perjuangan. Menurut sumber yang masih harus diverifikasi, Otista adalah salah seorang yang menerima dana titipan itu. Seorang Jepang yang kemudian membantu perjuangan gerilya RI, mengakui pernah menyerahkan sejumlah uang kepada Otista. Demikianlah kira-kira sebab musabab adanya tuduhan Otista punya uang 1 juta itu.

**

Dengan hilangnya Otista, Bandung dan Jawa Barat kehilangan salah seorang pemimpinnya yang paling penting. Kepemimpinan di Bandung pun jadi cerai-berai. Jawa Barat dipimpin orang non-Sunda, sementara tokoh Sunda malah jadi pemimpin di daerah lain. Kekuatan kaum nasionalis di Bandung seolah kehilangan arah dan tumpuan. Mereka terjebak dalam situasi saling curiga. Oleh karena itulah Sekutu “lebih mudah” menaklukkan Bandung.

Apakah Lasykar Hitam dan Direktorium rezim Achmad Chairun diuntungkan dengan perbuatannya? Tidak. Yang mereka lakukan terbukti sia-sia belaka dan tidak menambah apa pun untuk perjuangan Republik selain penyesalan. Mereka malah mengotori perjuangan Republik karena memisahkan diri. Dalam konteks perjuangan yang lebih luas mereka juga bagian dari korban. Korban provokasi tokoh yang berkhianat atau korban intelijen musuh.

Apakah –kalau benar ada– kawan Otista yang berkhianat itu yang beruntung? Tidak juga. Sejarah kemudian mencatat bahwa Otista tidak bersalah dan namanya sudah dipulihkan dengan pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional. Sebaliknya sang kawan itu mungkin sampai akhir hayatnya memendam rasa takut dan sesal. Perbuatannya terbukti hanya merusak kesatuan perjuangan Republik.

Lalu siapa yang rugi? Yang rugi adalah para pemimpin republik karena hubungan mereka dengan rakyat diputus oleh pagar betis pemuda dan amuk massa di setiap sudut kota. Kendali mereka menjadi sangat lemah. Begitu pula yang paling rugi dari hilangnya Otista adalah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik.

Hal itu diakui secara jujur oleh Presiden Sukarno (kantor berita Antara, 29/09/1950) bahwa Otista memang salah seorang putra Indonesia yang banyak sekali jasanya kepada tanah air dan bangsa. “Kalau umpamanya Tuan Oto sekarang ini masih hidup, sudah tentu beliau akan memberi lagi jasa-jasanya yang besar kepada negara kita ini dan banyak kesulitan yang kita hadapi sekarang ini lebih mudah diatasi.”

Kerugian juga dirasakan oleh warga Jawa Barat, masyarakat yang sejak awal 1930-an sudah dipersiapkan Otista untuk menyongsong kemerdekaan. Melalui Paguyuban Pasundan yang dipimpinnya sejak 1931, Otista terus-menerus menggelorakan semangat kemerdekaan melalui persatuan, kedisiplinan, dan kesungguhan bekerja. Kerugian orang Sunda atas hilangnya Otista itu tidak hanya dari aspek politik, tetapi juga dari aspek sosial, pendidikan, ekonomi, dan budaya.

Dari aspek sosial-pendidikan-ekonomi adalah kesulitan dalam menghidupkan kembali Paguyuban Pasundan. Sebagaimana diketahui, Paguyuban Pasundan ketika dibubarkan pada 1942 sedang dalam puncak keemasannya. Organisasi massa ini bergerak di banyak bidang sosial, pendidikan, dan ekonomi. Ada rumah sakit dan sekolah. Ada koperasi dan perbankan. Ada penerbitan dan percetakan. Ada organisasi perempuan dan pemuda dan banyak hal lain lagi. Dalam aspek kebudayaan, kerugian orang Sunda adalah hilangnya keseimbangan kepemimpinan.

**

Apakah kita sudah cukup menghormati jasa Otista? Tokoh Sunda ini sudah jadi Pahlawan Nasional. Ia juga sudah jadi nama jalan-jalan protokol di berbagai kota besar dan kecil. Dari sisi formal mungkin sudah memadai. Akan tetapi dari sisi kepentingan yang lebih luas, untuk tumbuh kembangnya budaya Sunda ke depan, rasanya kita masih perlu untuk lebih memberi lagi penghormatan. Umpamanya, membuatkan sebuah museum yang didekasikan untuk mengenang jasa dan perjuangannya (Lihat Museum Oto Iskandar di Nata: Sebuah Mimpi).

Oto Iskandar di Nata hidup hampir tanpa cela dan mati sebagai syahid. Mengenang Otista adalah seperti mengisi kembali bahan bakar yang hampir habis. Totalitasnya pada perjuangan benar-benar berakhir pada titik darahnya yang penghabisan. Sebagaimana pernah diamanatkan Otista, “Perbuatan yang harus dan mesti kita kerjakan sudah tentu adalah berjuang untuk menang”. Itulah panduan generasi Sunda sekarang, berjuang dan menang.

Kongres Pemuda Sunda (5-7 November 1956), memproklamasikan Oto Iskandar di Nata sebagai Bapak Sunda. “Yen Dewi Sartika jeung Oto Iskandar di Nata kudu dipieling ku urang Sunda saban taun minangka Ibu jeung Bapa Sunda” (Bahwa Dewi Sartika dan Oto Iskandar di Nata harus diperingati oleh orang Sunda setiap tahun sebagai Bapak dan Ibu Sunda). Proklamasi itu benar adanya. Memang, sudah selayaknya kalau Otista dijadikan sebagai Bapak Sunda. (Iip D. Yahya, dari berbagai sumber)

Pikiran Rakyat, 24 Desember 2007 Lanjut Baca »

berbagi cerita tentang tatar sunda: sejarah, budaya, agama, dan lain-lain

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.